Berhati-hatilah Saat Berkendara

Sehari sebelum kecelakaan itu terjadi, saya makan malam bersama pacar saya dan keluarganya. Malam itu sama seperti malam-malam biasanya. Tidak ada firasat apapun yg saya rasakan.

Pagi harinya, pada hari Jumat tanggal 3 Juni 2011, Maurice berangkat ke kantor di daerah Daan Mogot pukul 05.30 WIB. Karena adanya cuti bersama (hari Kenaikan Yesus Kristus) maka jalanan terasa sepi. Seperti biasanya ia mengendarai motor Byson dengan kecepatan hingga 90 km. Setelah sampai daerah Lapangan Banteng, ia melihat jalanan becek seperti genangan air tahu pedagang tahu keliling. Ia tidak sempat mengerem dan motornya langsung terpeleset oleh genangan air itu. Ia terpelanting jauh dari motornya hingga masuk ke dalam jalur busway.

Untungnya ia menggunakan helm, jaket tebal dan sepatu. Mukanya tak luput dari seretan aspal, celananya panjangnya robek dan tangannya pun patah, luka-luka dan bengkak. Benar-benar menyedihkan.

Bersyukur sekali, di jalan raya yang sepi itu ada petugas kebersihan yg segera menolongnya. Maurice langsung menelpon papanya untuk minta dijemput disana.

Setelah sampai di rumah, Maurice langsung mengabari saya. Sentak saya kaget pukul 07.00 WIB ia menelpon saya ketika saya masih tertidur.

Ketika sampai di rumahnya, saya sangat kaget melihat kondisinya yg cukup parah. Akhirnya mamanya Maurice membelikan obat luka sebagai pertolongan pertama. Siangnya ia dibawa ke RS. Persahabatan untuk mengobati lukanya sekaligus dirontgen, apakah tangannya patah atau tidak. Namun ia tidak mau dioperasi dan memutuskan untuk mengurut di tukang urut profesional.

Kebetulan tantenya mempunyai seorang kenalan tukang urut yg bagus di daerah Cilandak. Setelah selesai dari RS, mama, papa, tante, sepupunya yg bernama Sunu, teman-teman tantenya dan saya langsung membawa Maurice ke tukang urut tersebut. Sesampainya di tukang urut, ternyata banyak sekali pasien yg datang ke sana untuk diobati. Ketika sedang mengantri, Maurice hampir mengurungkan niatnya untuk dipijit karena ia melihat orang yang teriak-teriak saat dipijit. Tapi orang tua dan saudara-saudaranya selalu mendukungnya supaya ia lekas sembuh. Akhirnya ia pun mau dipijit. Ketika sedang dipijit, Sunu tidak tega melihat abangnya teriak-teriak dan melihat luka-luka di tangan dan wajah abangnya, ia keluar dr tempat itu dan langsung jatuh pingsan. Sunu langsung ditolong oleh teman-teman mamanya. Dan tidak lama kemudian Sunu tersadar dr pingsannya.

Setelah diurut keadaannya semakin membaik, namun banyak makanan yang dipantang, seperti: ayam, kambing, pisang, duren, nangka, air es, dsb.

Namun Maurice harus kembali ke tukang urut 4 hari kemudian untuk melihat kemajuannya. Semoga kamu cepet sembuh ya sayang. Hati-hati jika membawa kendaraan, jangan suka ngebut, nyawa adalah taruhannya.🙂

2 Comments (+add yours?)

  1. Ryani
    Jun 09, 2011 @ 02:46:05

    cepet sembuh buat moris, maaf belum bisa jenguk ya. Hem, sebaiknya tangannya diterapi sebelum terlambat…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: