Pandangan Pertama

Pada saat itu, program acara reality show Mamamia yang ditayangkan di Indosiar sangat menarik perhatian teman-teman kampus saya untuk menjadi juri vote lock di sana, hitung-hitung dapat menambah uang saku dan mencari pengalaman.

Kemudian, Icha mengirim fax ke pihak Indosiar untuk mengajukan permohonan sebagai juri vote lock. Beberapa hari kemudian, Icha mendapat telepon dari pihak Indosiar yang memberitahukan bahwa pihak Indosiar menyetujui permohonan tersebut. Namun, karena sinyal yang buruk maka telepon terputus, padahal belum sempat diberikan penjelasan bagaimana kelanjutannya.

Akhirnya Icha, Tiara, Puji, Tri,  Dwi, Enok, Widiya, Leli, Ani dan saya memutuskan untuk konfirmasi langsung ke Indosiar. Setelah pulang kuliah, kami langsung berangkat ke sana. Sampai di sana, kami bertemu dengan pak satpam. Kami menanyakan kejelasan mengenai juri vote lock, namun pak satpam tidak mengijinkan kami masuk karena Icha lupa nama orang yang menghubunginya. Akhirnya, kami gagal menjadi juri vote lock.

Kebetulan sekali pacarnya Dwi kuliah di ATKI, kampus milik Indosiar. Kemudian Dwi  menghubungi pacarnya yang bernama Bombom untuk bertemu. Lalu Bombom menghampiri Dwi bersama dua orang temannya yang bernama Budi dan Maurice.

Pertama kali berjabat tangan dengan Maurice, dia mengatakan bahwa dia pernah mengenal saya sebelumnya di gereja. Saya kaget, apa benar orang yang satu gereja dengan saya bisa berkenalan secara tidak sengaja justru di tempat yang lebih jauh. Padahal, di gereja saya tidak pernah mengenalnya.

Setelah perkenalan singkat itu, dua kali berturut-turut saya bertemu dengannya di gereja. Lalu saya memberanikan diri untuk menyapanya. Hanya memanggil “hei” kemudian saya pergi meninggalkannya.

Saya meminta nomor telepon Maurice dari Bombom. Saya menyuruh Bombom untuk membujuk Maurice agar menghubungi saya terlebih dahulu. Bujukan pun berhasil. Akhirnya, kami saling mengenal satu sama lain. Sesekali kami bertemu untuk mengobrol.

Pada tanggal 3 Maret 2008 jam setengah sembilan malam, dia mengajak saya untuk bertemu dengan temannya di tempat makan daerah Utan Kayu. Ternyata itu hanya trik dia untuk bertemu berdua dengan saya.

Setengah jam kami berbincang, dia menyatakan perasaannya dengan saya. Dia menyukai saya dan meminta saya menjadi pacarnya. Saya pun tersipu malu dan bahagia. Justru saya orang yang menyukainya saat pertama kali mengenalnya di Indosiar.

Semoga ini menjadi awal yang indah🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: